Sabtu, 01 Juni 2013

dewa langit marah


                                                       dewa langit marah
                                                

Oleh:sufyan tsauri




Di kampung itu, orang-orang berkumpul dan berbicara tentang Dewa Langit. Mereka saling bertanya-tanya sama yang lain. Kesana sini mereka menanya agar lebih jelas.
Hendaklah bau mulut mereka masuk ke lubang hidung yang lain. Aroma amis bau telur terasa panas ketika dihirup. Tak hentihentinya bau mulut menerjang nafas yang segar bugar
888
Serpihan cahaya matahari mulai tiada. Orang-orang pergi ke rumahnya diri sendiri, melakukan ibadah magrib sekaligus sholat gerhana bulan, mengikuti sunnah Nabi. Sholat gerhana dari zaman ke zaman sudah menjadi kewajiban mereka di masjid.
Ayat-ayat Alquran dibacakan oleh imam secara tilawatil, dan para makmum mengamati dengan husuk bacaan ayat alquran.  Nada-nadanya meliut-liut ketika didengar. Panjang pendeknya entah benar atau salah, begitupun tajwidnya. Mereka tak memikirkan masalah tajwid, yang ada hanyalah teringat kepada Allah.
Dari kakek hingga kanak-kanak ikut hadir di dalam masjid itu. Rasanya anak-anak yang hadir hanya untuk bermain di dalam masjid. Di baris paling belakang ramai tawa anak-anak terbahak-bahak. Mereka membentuk lingkaran untuk giliran bercerita tentang datangnya gerhana bulan total. Yang berada di tengah-tengah haruslah bercerita tentang Dewa Langit dengan gaya lucunya. Dan jadilah hujan tawa dalam masjid.
Telinga para makmum beraduk tawa dengan syahdu tilawatil. Tapi mereka terus berjuang menerjang tawa anak-anak demi ke husyuan sholat gerhana bulan. Ada sebagian makmum juga tertawa kecil karena tidak tahan mendengar cerita anak-anak. Sungguh ketidak tahanan mendengar cerita anak, mereka terpaksa mengendurkan alisnya.para makmum Dengan penuh konsentrasi dan tawa semakin menggelegar.
Sehanbis sholat para makmum menoleh ke belakang untuk memastikan anak-anak yang bercerita. Tiba-tiba ceritanya diam sejenak dan tidak ada yang bersuara. Untung para makmum tidak marah. Nafas anak-anak mulai meninggi karena takut di tendang begitu saja oleh bapak mereka.
Lambat laun ceritanya mulai ramai, bisa dikatakan melebihi suara tahlil-tahlil yang dibacakan orang di depan. sambil matanya anak-anak mengawasi para pembaca tahlil.
888
Orang-orang mulai beranjak dari tempatnya untuk keluar. Ketika menoleh ke belakang anak-anak hilang, entah kemana larinya? Semua orang terkejut dengan keanehan anak-anak mereka. Sambil berfikir panjang--- langkahnya berhenti kemudian. Tiba-tiba ada satu anak masuk.
“gerhana bulan sudah datang.” Katanya terengah-engah. Lalu semua orang yang ada di dalam masjid keluar dan berlari-lari.
Nampaklah bulan berwarna merah pekat, bergambar seperti api yang membakar sesuatu. Orang kampung menyebutnya.
“Dewa langit marah.” Tidak tahu kenapa. mungkin fikirannya, merah menandakan kemarahan atau kejahatan sehingga di sebut dewa langit marah. Memang dari sejarah orang kampung, sudah menyebutnya kayak begitu.
Setelah lama menatap bulan purnama, orang-orang berlari segala arah seperti zamannya mereka mengambil kentungan untuk menandakan datangnya gerhana bulan total. Dan sebagian orang membangunkan hewan ternaknya sebagai kehormatan datangnya dewa langit marah. Anak-anak kecil dijunjung tinggi, agar cepat pertumbuhannya lancar, dan itu fikiran-fikiran orang kampung saat datang gerhana bulan.
888
Purnama bulan masih bersahaja, orang kampung berada di atas atap rumahnya masing-masing. Pastilah sudah letih bergila-gila pada malam hari. Dan kemudian mereka memastikan gerhana untuk segera tiada dengan keadaan ketinggian mereka bisa melihat begitu jelas pada gerhana bulan.
Semakin malam orang kampung semakin gila menatap gerhana bulan, ada yang di atas pohon kelapa, dan di ujung pohon rimbapun telah sesak dengan orang-orang. Syukurlah tidak ada yang jatuh yang berada di atas genting, mereka memukul kentungnya yang menandakan semakin redanya dewa langit.
888
Kongkok ayam menandakan pukul 03:00 WIB, gerhana bulan telah sirna , suasana kampung itu, sangat sunyi tidak ada orang yang berkeliaran. Angin terus berjalan secara bergantian, hingga tampaklah dingin membeku. Meski bulan purnama hilang, tapi bintang di atas langit terus mengerdipkan suryanya.
Di atas pohon rimba orang-orang tertidur pulas, tak khawatir akan jatuh, dan di atas gentingpun merekapun tidur tak pakai bantal nan selimut.
Semuanya tidak di  sadari akan terjadinya hal tersebut, tetapi mereka selamat. Maklumlah kalau mereka seperti itu memang sejak dulu tergila-gila datangnya saat gerhana bulan.
888
Semburat sinar matahari mulai remang-remang menerangi tanah dan ilalang yang masih basah kuyup. Sejak dari tadi adzan subuh tak berkumandang. Suara orang sama sekali tidak ada hanya bunyi sapi dan ayam.
Tanak semakin terang dan orang-orangpun terbangun dari tidurnya, hanya ada sebagian yang masih terlelap pada tirurnya. Mereka tak meimikirkan pekerjaan yang sudah terlewatkan, seperti pergi keladang untuk mencari nafkah. Anak-anak tidak sekolah melainkan melanjutkan cerita yang tadi malam.
:sekolah mts 1 annuqayah,mengungsi
Dipondok pesantren annuqayah daerah
Latee.juga aktif di teater saksi

0 komentar:

Posting Komentar