This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 19 Oktober 2013

cerpen sufyan tsauri



Sakit yang terbunuh oleh ikan
Oleh; sufyan tsauri (oktober,2013,bumi annuqayah)
  Tak ada pekerjaan lain selain di pabrik ikan, bagi mat sahir. Telah 10 tahun bekerja di pabrik ikan, tapi belum juga bosan-bosan. Setiap pulang pastilah amis ikan. tak ada kata libur bekerja dan tak ada kata capek. Memang hidup mat sahir penuh liku-liku tapi hatinya lurus.
  Sesak, capek, pusing, semua berkecamuk dalam kerjanya mat sahir  di pabrik ikan. Dari kepala hingga jemari kaki terasa sakit dan dadanya sesak, tapi itu di pikul kesabarannya.

  Hampir 1 bulan makan tak teratur,kadang pula berpuasa,jadi kesehatan mat sahir menurun. Sudah 3 kali mat sahir ke rumah sakit untuk mengecek kesehatan tubuhnya.

  Beribu-ribu doa mat sahir mengucapkannya pada tuhan,tapi semua sia-sia. Deru membuat mat sahir ingin mati ketimbang sakit yang tak pernah di alami. Tulangnya pun mulai mengakar pada kulitnya, dari dada sampai punggungnya.

  Di depan mat sahir sebuah kursi berwarna biru, sementara mat sahir termenung karena sakit maahnya. Di pijat-pijat tangannya yang ceking di sertai seru dari mulutnya. Dengan penuh harapan kursi itu di raih, lalu duduk di atasnya. Sebotol  air dari saku celananya di minum agar kesehatan tubuhnya sedikit memulih.tangan kanannya mengambil sebungkus kapsul dari saku bajunya yang robek akibat kena paku. Perlahan mat sahir memejamkan mata di atas sandarannya, membayang sebuah kesakitan yang terjadi pada dirinya.

  “alamak………!!!!!!!!!!!!ikan-ikanya mana????!!!!!! Kok tinggal sedikit” serentak teriakan dari ruang ikan di letakkan , membuat mat sahir tersentak dari lamunannya. Gelisah , penasaran, semua di rasakan mat sahir waktu itu. Matanya  melotot sebentar ke ruang ikan lalu beranjak menuju teriakan yang tadi.
 
  Di dalam, seorang mengamuk-ngamuk, menghambur-hamburkan ikan, berteriak-teriak tak karua. mat sahir semakin takut untuk menghampiri, jadi mat sahir hanya di pintu.

  “kemana ikan-ikannya kok tinggal sedikit?!” bentak bos pada mat sahir

 “tau bos” kepala mat sahir tertunduk ketakutan

 “terus! Kemana ikan-ikannya?! Jangan-jangan kamu yang ngambil?” langkahnnya mendekati mat sahir.
 
“nggak bos, kalau saya ngambil, pasti saya melapor sama bos. Apa untungnya saya ngambil ikan di sini? Dan mengambil sebanyak-banyaknya” mat sahir mengatakan  tanpa ragu-ragu dan bicara yang lantang.

  “waduh gawat! Apa tadi ada orang masuk di sini?” mata bos menatap tajam pada mat sahir.

  “kayaknya nggak ada bos”

  Di hadapan bos segorombolan karyawan dengan kepala tertunduk.

 “apa ada yang tau, kemana ikan-ikan di sini?” bos bentak kepada semua karyawan yang ada di hadapannya. Kemarahan sang bos sudah mulai meninggi di karuniakan ikan-ikannya hilang.

 “nggak tau bos” karyawan menjawab bersamaan.

“oke! Mulai hari ini kita pasang cctv ”  matanya melotot pada ikan yang hanya tinggal 1 tumpuk, lalu melangkah ke ikan-ikan itu, di iringi mat sahir di belakangnya dengan kepala tertunduk. Seketika kaki bos berhenti dan mat sahir hampir menabraknya.

  “eh, yang ini angkut ke ruang dalam terus kunci”  bos membelokkan arah ke belakang lalu memberikan kunci pada mat sahir.

  “oke! Kalian semua pergi” karyawan-karyawan pun pergi berserakan bagai tawon keluar dari sarangnya. Pun mat sahir beranjak menuju luar pintu.

“eehhhh, kalau kamu pindahkan ikan-ikan ini” bos masih belum tau apa yang terjadi pada struktur tubuh mat sahir, jadi bos memaksa mat sahir untuk memindahkan ikan ke ruang dalam. Begitu pun mat sahir yang tak kenal lelah dalam mencari uang demi kebutuhan anak dan istrinya di rumah, entah badannya lemas dan kurang gizi, semua itu adalah hanyalah sebuah cobaan dari tuhan, bagi mat sahir.

  Satu-persatu ikan itu dimasukkan ke dalam plastik. Tanpa kata jijik mat sahir memakai tangan telanjang dan merakus dengan banyak. Bau amis mengunjungi penghirupan mat sahir. Hendaklah bajunya yang putih suci menjadi putih basah dan amis ikan. Amiss ikan laut tidak terelalu menyengat ketimbang bau bangkai ayam yang selalu ada di belakang rumahnya.
 
  Selesai memasukkan ikan ke dalam plastik, mat sahir pun membawa ke ruang dalam tempat ikan yang sudah di bersihkan. Lumayan berat ikan itu, sekitar 5 kg. pusing, capek, sudah terasa tapi mat sahir kelihatan begitu kuat. Seberat apapun ikan yang di bawannya, mat sahir tak akan berhenti di tengah jalan, terus berjuang hingga dahaganya habis. Seakan-akan mat sahir adalah sebuah robot yang pakai baterai dan yang tak pernah di kalahkan capeknya, meski rangka-rangka tubuhnya rusak.

  Sampai ke ruang dalam, mat sahir meletakkan ikan-ikannya di sebuah kotak yang belum berisi apa-apa. Sementara bos di belakangnya lihat-lhat tidak menolong mat sahir, tapi mat sahir tau bahwa bosnya akan memberi gaji yang banyak, paling tidak lima puluh ribu. Semisal mat sahir dapat gaji sedikit, tetap mat sahir menerima apa yang di berikan bos.
                                                         ***
                
  Di luar sana matahari mulai remang-remang merah, tapi belum masuk waktu maghrib. Namun para karyawan sudah pulang semua, hanya mat sahir masih belum pulang. Tak seperti kala karyawan pulang setelah maghrib. Mungkin mat sahir tak akan pulang karena ada kerjaan yang harus di lakukan hari itu, yakni memasang cctv. Jika pekerjaan itu tidak d lakukan maka akibatnya di potong gaji. Memang salah mat sahir yang menghilangkan ikan-ikannya, seharusnya mat sahir menjaga di depan pintu ikan di letakkan bukan di ruang luar.

  Maghrib pun berkumandang, amis masih melekat di badan mat sahir. Dari azhar mat sahir tak mandi, bahkan tidak pernah menyentuh air, kecuali air ikan. Rasa lapar telah mengintainya, tapi mat sahir tidak di perbolehkan makan sama bosnya. Di dalam pabrik ikan hanya mat sahir sedangkan bosnya masih membeli cctv. Ingin rasanya mat sahir keluar, melihat kendaraan-kendaraan.

  Di dalam terasa muak, mat sahir pun keluar. Lalu duduk di atas meja terbuat dari bambu, dan matanya mengawasi pintu masuk pabrik ikan. Seketika segorombolan kucing masuk, lebih dari lima puluh. Tanpa ada kata, mat sahir pun berlari sekuat-kuatnya, tapi kakinya terasa berat sehingga kucing itu keluar dengan membawa ikan satu-persatu. Kucing itu semakin jauh dari mat sahir dan mendekati jalan. Ikan yang di bawa kucing baru di beli ke nelayan. Mat sahir tak ingin ketinggalan ikan-ikan itu, tapi perutnya terasa sakit. Sampai di tengah jalan, hampir mat sahir meraih satu ikan dari satu kucing, tapi usahanya gagal, yakni di tabrak mobil. Badannya berlumur darah namun tidak mati. Orang-orang tidak ada yang menolongnya, yang ada hanya ikan-ikan bergalantungan di mulut kucing. Tangannya ingin mengambil ikan itu, tapi tangannya tidak bisa di kendalikan. Mat sahir pun mati dengan ikan di atas badannya yang di bawa oleh kucing-kucing.

  Ternyata keinginan mat sahir tercapai. Sakit yang tak pernah di alami usai di tengah jalan di sertai ikan-ikan di dadanya. 

Sufyan tsauri lahir di sumenep, madura
Sekolah di mts 1 annuqayah
Dan aktif di teater saksi
                                                                                                                                                          

Jumat, 20 September 2013

naluri kerajaan



Naluri kerajaan
Oleh;sotel segoro
     Di dalam teater absurd ini kita butuh 12aktor\orang.jangan banyak kata kita langsung ke naskah,oke!siap!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
     Lampu gelap,senyap,sunyi,tidak ada suara.lalu lalang lampu hidup.sepasang 4 aktor masuk dengan keadaan berkepala ember,jalan-jalannya tidak tegas tapi semacam orang lunglai.4 aktor itu,berbaris ke belakang dengan rapi dan langkahnya juga rapi.setelah itu!di depan sana  ada 4 aktor lagi memegang kayu berbentuk persegi panjang.kayu itu, di patok-patok dengan kencang dan matanya menatap tajam pada aktor yang berkepala ember.4 aktor(yang berkepala ember)menuju 4 aktor(yang memegang kayu)dengan keadaan lunglai.
     Apabila 4 aktor(yang berkepala ember)agak dekat,maka si  4 aktor(yang memegang kayu)tersebut berpencaran,pergi ke setiap sudut,tapi cara pindahnya bukan berjalan,melainkan meloncat-loncat ke samping sepeti kodok.terus 4 aktor(yang berkepala ember )juga berpencar secara perlahan,mengikuti pencaran 4 aktor(yang memegang kayu)-satu persatu,dan kayu itu terus di patok secara kencang.yang asalnya berkelompok sekarang berpencar-mengejar yang memegang kayu.di perbagai sudut ada si pemegang kayu,dia seperti orang memanggil-manggil.para berkepala emberlalu menujupada para pembawa kayu yang ada  di setiap sudut.para pembawa kayu pun,berputar kekanan dan juga berkepala ember mengikutinya.
     Setealah sampai setengah putaran berturut-turut,lalu datang 2 aktor berguling-guling.keluar dari tempat yang 4 aktor(yang berkepala ember).2 aktor itu,juga berpencar,mengejar yang memegang kayu,tapi terus berguling mengejarnya.dan setelah berapa gulingan,2 aktor itu memberikan isyarat dengan kaki di atas seperti orang mengayuh.lalu semua aktor jadi berantakan,berserakan.jalan si 4 aktor(yang berkepala ember)menjadi menjinjit-jinjit.4 akto(pemegang kayu)gesit dalam gerakannya.semua aktor telah bergerak dengan cepat dan atribut.
    Lama ber-atribut.datang 1 aktor dengan tangan telentang dan berjalan berbaling-baling menuju ketengah panggung.lalu datang lagi 1 aktor dengan tangan telentang tapi miring dan juga berbaling-baling.kedua aktor berbaling- baling menuju ketengah panggung.aktor yang ber-atribut berubah seketika.4 aktor(yang berkepala ember)menjadi jalannya lambat dan lemas.sedangkan 4 aktor(pemegang kayu)menatap tak bergerak seakan-akan tak berkedip.2 aktor yang berguling menjadi merangkak lalu jatuh.
     Sampai di tengah,2 aktor yang  tangan telentang menyatu jadi satu nan berbaling.2 aktor si perangkak menuju pada 2 aktor yang menjadi satu,di sana dia meraba-raba tubuhnya.terus pada 4 aktor (yang memegang kayu)juga menuju,dengan jalannya kayu di atas kepalanya.setelah itu,4 aktor(yang berkepala ember)juga menuju,tapi jalannya sama yang tadi-menjinjit,disana berbentu lingkaran,2 aktor yang tangan telentang berda di tengah lingkaran..dan 4 aktor(pemegang kayu)berada di pinggir 2 aktor yang tangan telentangdan kayu di patok-patokkan.sedangkan 4 aktor(berkepala ember)berada di belakang 4 (pemegang kayu).4aktor(berkepala ember)tangannya berada di atas kepala dan kakinya terangkat.dan SELESAI……………………………………………………………………………
Selamat menyaksikan!!!


Rabu, 18 September 2013

teater saksi


hidup dan mati dianta dua kesaksian

Rabu, 04 September 2013

hari yang cerah



HARI SESUNYI MATAHARI
Oleh : Sotel Harian

Adegan I:
Lampu padam, instrument masuk, lalu 5 aktor masuk: 1 orang membawa kendi dan 4 orang membawa obor.
            Sesampai ketengah. Yang membawa kendi berada di tengah-tengah para pembawa obor dan mengelilingi perlahan-lahan.
            Suara musik semakin kencang dan melancang orang yang membawa kendi kebingungan dan takut. Dan kemudian music itu telah bersi  keras kendi itu di lempar ke bawah dan pecah. Orang yang membawa obor diam tidak berjalan lagi, tinggal orang yang membawa kendi dampak menyesali perbuatannya.
            4 aktor masuk, 2 aktor membawa polok berisi air dan kembang, dan 2 aktor lagi memabawa tupah. Air dan Kembang di taburkannya pada si pembawa kendi. Dan pembawa tupah duduk di sebelah pembawa obor dan mematung.
            Suara music semakin gaduh sedangkan penabur yang ada di tengah itu (membawa air dan kembang) semakin cepat menaburnya suara music melantang di pecahkannya polok di atas kepala si pembawa kendi.
            Dan si pembawa polok dengan si pembawa tupah keluar perlahan-lahan. lalu datanglah 2 atau 4 aktor tidak membawa apa-apa dan setelah itu berjalan menuju si pembawa kendi. Setelah sampai, menyembah kepada si pembawa kendi. Dan si pembawa kendi itu seperti tuhan yang berkuasa tapi tetap tidak berjalan dan dilihatnya yang menyembah itu. Beberapa saat kemudian setelah selesai melihatnya, si pembawa obor menancapkannya di sebelah leher pembawa kendi . si pembawa kendi roboh dengan keadaan seperti si penyembah tapi kepalanya menunduk.
Adegan II:
            4 aktor masuk  dengan keadaan membawa benda berat: Besi, Kayu, Batu, Kertas yang banyak. 4 aktor  tersebut mengeluh seperti orang yang sangat kelaparan dan menyebut “Tuhan” Berakali-kali. Beberapa menit kemudian 2 orang pembawa golok dengan menyebut “Akulah Tuhanmu ” 1 kali. Golok itu di mainkan. Setelah berkumpul 4 aktor (sipembawa benda berat ) dia menyebut “dimana tuhan kita !”. satu persatu di tanyakan dengan keadaan kaget dan setelah itu dia menangis dan tersedu-sedu. Si pembanwa golok lalu menyembelih satu persatu.

Senin, 02 September 2013

Sabtu, 01 Juni 2013

dewa langit marah


                                                       dewa langit marah
                                                

Oleh:sufyan tsauri




Di kampung itu, orang-orang berkumpul dan berbicara tentang Dewa Langit. Mereka saling bertanya-tanya sama yang lain. Kesana sini mereka menanya agar lebih jelas.
Hendaklah bau mulut mereka masuk ke lubang hidung yang lain. Aroma amis bau telur terasa panas ketika dihirup. Tak hentihentinya bau mulut menerjang nafas yang segar bugar
888
Serpihan cahaya matahari mulai tiada. Orang-orang pergi ke rumahnya diri sendiri, melakukan ibadah magrib sekaligus sholat gerhana bulan, mengikuti sunnah Nabi. Sholat gerhana dari zaman ke zaman sudah menjadi kewajiban mereka di masjid.
Ayat-ayat Alquran dibacakan oleh imam secara tilawatil, dan para makmum mengamati dengan husuk bacaan ayat alquran.  Nada-nadanya meliut-liut ketika didengar. Panjang pendeknya entah benar atau salah, begitupun tajwidnya. Mereka tak memikirkan masalah tajwid, yang ada hanyalah teringat kepada Allah.
Dari kakek hingga kanak-kanak ikut hadir di dalam masjid itu. Rasanya anak-anak yang hadir hanya untuk bermain di dalam masjid. Di baris paling belakang ramai tawa anak-anak terbahak-bahak. Mereka membentuk lingkaran untuk giliran bercerita tentang datangnya gerhana bulan total. Yang berada di tengah-tengah haruslah bercerita tentang Dewa Langit dengan gaya lucunya. Dan jadilah hujan tawa dalam masjid.
Telinga para makmum beraduk tawa dengan syahdu tilawatil. Tapi mereka terus berjuang menerjang tawa anak-anak demi ke husyuan sholat gerhana bulan. Ada sebagian makmum juga tertawa kecil karena tidak tahan mendengar cerita anak-anak. Sungguh ketidak tahanan mendengar cerita anak, mereka terpaksa mengendurkan alisnya.para makmum Dengan penuh konsentrasi dan tawa semakin menggelegar.
Sehanbis sholat para makmum menoleh ke belakang untuk memastikan anak-anak yang bercerita. Tiba-tiba ceritanya diam sejenak dan tidak ada yang bersuara. Untung para makmum tidak marah. Nafas anak-anak mulai meninggi karena takut di tendang begitu saja oleh bapak mereka.
Lambat laun ceritanya mulai ramai, bisa dikatakan melebihi suara tahlil-tahlil yang dibacakan orang di depan. sambil matanya anak-anak mengawasi para pembaca tahlil.
888
Orang-orang mulai beranjak dari tempatnya untuk keluar. Ketika menoleh ke belakang anak-anak hilang, entah kemana larinya? Semua orang terkejut dengan keanehan anak-anak mereka. Sambil berfikir panjang--- langkahnya berhenti kemudian. Tiba-tiba ada satu anak masuk.
“gerhana bulan sudah datang.” Katanya terengah-engah. Lalu semua orang yang ada di dalam masjid keluar dan berlari-lari.
Nampaklah bulan berwarna merah pekat, bergambar seperti api yang membakar sesuatu. Orang kampung menyebutnya.
“Dewa langit marah.” Tidak tahu kenapa. mungkin fikirannya, merah menandakan kemarahan atau kejahatan sehingga di sebut dewa langit marah. Memang dari sejarah orang kampung, sudah menyebutnya kayak begitu.
Setelah lama menatap bulan purnama, orang-orang berlari segala arah seperti zamannya mereka mengambil kentungan untuk menandakan datangnya gerhana bulan total. Dan sebagian orang membangunkan hewan ternaknya sebagai kehormatan datangnya dewa langit marah. Anak-anak kecil dijunjung tinggi, agar cepat pertumbuhannya lancar, dan itu fikiran-fikiran orang kampung saat datang gerhana bulan.
888
Purnama bulan masih bersahaja, orang kampung berada di atas atap rumahnya masing-masing. Pastilah sudah letih bergila-gila pada malam hari. Dan kemudian mereka memastikan gerhana untuk segera tiada dengan keadaan ketinggian mereka bisa melihat begitu jelas pada gerhana bulan.
Semakin malam orang kampung semakin gila menatap gerhana bulan, ada yang di atas pohon kelapa, dan di ujung pohon rimbapun telah sesak dengan orang-orang. Syukurlah tidak ada yang jatuh yang berada di atas genting, mereka memukul kentungnya yang menandakan semakin redanya dewa langit.
888
Kongkok ayam menandakan pukul 03:00 WIB, gerhana bulan telah sirna , suasana kampung itu, sangat sunyi tidak ada orang yang berkeliaran. Angin terus berjalan secara bergantian, hingga tampaklah dingin membeku. Meski bulan purnama hilang, tapi bintang di atas langit terus mengerdipkan suryanya.
Di atas pohon rimba orang-orang tertidur pulas, tak khawatir akan jatuh, dan di atas gentingpun merekapun tidur tak pakai bantal nan selimut.
Semuanya tidak di  sadari akan terjadinya hal tersebut, tetapi mereka selamat. Maklumlah kalau mereka seperti itu memang sejak dulu tergila-gila datangnya saat gerhana bulan.
888
Semburat sinar matahari mulai remang-remang menerangi tanah dan ilalang yang masih basah kuyup. Sejak dari tadi adzan subuh tak berkumandang. Suara orang sama sekali tidak ada hanya bunyi sapi dan ayam.
Tanak semakin terang dan orang-orangpun terbangun dari tidurnya, hanya ada sebagian yang masih terlelap pada tirurnya. Mereka tak meimikirkan pekerjaan yang sudah terlewatkan, seperti pergi keladang untuk mencari nafkah. Anak-anak tidak sekolah melainkan melanjutkan cerita yang tadi malam.
:sekolah mts 1 annuqayah,mengungsi
Dipondok pesantren annuqayah daerah
Latee.juga aktif di teater saksi