dewa langit marah
Oleh:sufyan
tsauri
Di kampung itu, orang-orang berkumpul
dan berbicara tentang Dewa Langit. Mereka saling bertanya-tanya sama yang lain.
Kesana sini mereka menanya agar lebih jelas.
Hendaklah bau mulut mereka masuk ke
lubang hidung yang lain. Aroma amis bau telur terasa panas ketika dihirup. Tak
hentihentinya bau mulut menerjang nafas yang segar bugar
888
Serpihan cahaya matahari mulai tiada.
Orang-orang pergi ke rumahnya diri sendiri, melakukan ibadah magrib sekaligus
sholat gerhana bulan, mengikuti sunnah Nabi. Sholat gerhana dari zaman ke zaman
sudah menjadi kewajiban mereka di masjid.
Ayat-ayat Alquran dibacakan oleh imam
secara tilawatil, dan para makmum mengamati dengan husuk bacaan ayat
alquran. Nada-nadanya meliut-liut ketika
didengar. Panjang pendeknya entah benar atau salah, begitupun tajwidnya. Mereka
tak memikirkan masalah tajwid, yang ada hanyalah teringat kepada Allah.
Dari kakek hingga kanak-kanak ikut hadir
di dalam masjid itu. Rasanya anak-anak yang hadir hanya untuk bermain di dalam
masjid. Di baris paling belakang ramai tawa anak-anak terbahak-bahak. Mereka
membentuk lingkaran untuk giliran bercerita tentang datangnya gerhana bulan
total. Yang berada di tengah-tengah haruslah bercerita tentang Dewa Langit
dengan gaya lucunya. Dan jadilah hujan tawa dalam masjid.
Telinga para makmum beraduk tawa dengan
syahdu tilawatil. Tapi mereka terus berjuang menerjang tawa anak-anak demi ke
husyuan sholat gerhana bulan. Ada sebagian makmum juga tertawa kecil karena
tidak tahan mendengar cerita anak-anak. Sungguh ketidak tahanan mendengar
cerita anak, mereka terpaksa mengendurkan alisnya.para makmum Dengan penuh
konsentrasi dan tawa semakin menggelegar.
Sehanbis sholat para makmum menoleh ke
belakang untuk memastikan anak-anak yang bercerita. Tiba-tiba ceritanya diam
sejenak dan tidak ada yang bersuara. Untung para makmum tidak marah. Nafas
anak-anak mulai meninggi karena takut di tendang begitu saja oleh bapak mereka.
Lambat laun ceritanya mulai ramai, bisa
dikatakan melebihi suara tahlil-tahlil yang dibacakan orang di depan. sambil
matanya anak-anak mengawasi para pembaca tahlil.
888
Orang-orang mulai beranjak dari
tempatnya untuk keluar. Ketika menoleh ke belakang anak-anak hilang, entah
kemana larinya? Semua orang terkejut dengan keanehan anak-anak mereka. Sambil
berfikir panjang--- langkahnya berhenti kemudian. Tiba-tiba ada satu anak
masuk.
“gerhana bulan sudah datang.” Katanya
terengah-engah. Lalu semua orang yang ada di dalam masjid keluar dan
berlari-lari.
Nampaklah bulan berwarna merah pekat,
bergambar seperti api yang membakar sesuatu. Orang kampung menyebutnya.
“Dewa langit marah.” Tidak tahu kenapa.
mungkin fikirannya, merah menandakan kemarahan atau kejahatan sehingga di sebut
dewa langit marah. Memang dari sejarah orang kampung, sudah menyebutnya kayak
begitu.
Setelah lama menatap bulan purnama,
orang-orang berlari segala arah seperti zamannya mereka mengambil kentungan
untuk menandakan datangnya gerhana bulan total. Dan sebagian orang membangunkan
hewan ternaknya sebagai kehormatan datangnya dewa langit marah. Anak-anak kecil
dijunjung tinggi, agar cepat pertumbuhannya lancar, dan itu fikiran-fikiran
orang kampung saat datang gerhana bulan.
888
Purnama bulan masih bersahaja, orang
kampung berada di atas atap rumahnya masing-masing. Pastilah sudah letih
bergila-gila pada malam hari. Dan kemudian mereka memastikan gerhana untuk
segera tiada dengan keadaan ketinggian mereka bisa melihat begitu jelas pada
gerhana bulan.
Semakin malam orang kampung semakin gila
menatap gerhana bulan, ada yang di atas pohon kelapa, dan di ujung pohon
rimbapun telah sesak dengan orang-orang. Syukurlah tidak ada yang jatuh yang
berada di atas genting, mereka memukul kentungnya yang menandakan semakin
redanya dewa langit.
888
Kongkok ayam menandakan pukul 03:00 WIB,
gerhana bulan telah sirna , suasana kampung itu, sangat sunyi tidak ada orang
yang berkeliaran. Angin terus berjalan secara bergantian, hingga tampaklah
dingin membeku. Meski bulan purnama hilang, tapi bintang di atas langit terus
mengerdipkan suryanya.
Di atas pohon rimba orang-orang tertidur
pulas, tak khawatir akan jatuh, dan di atas gentingpun merekapun tidur tak
pakai bantal nan selimut.
Semuanya tidak di sadari akan terjadinya hal tersebut, tetapi
mereka selamat. Maklumlah kalau mereka seperti itu memang sejak dulu
tergila-gila datangnya saat gerhana bulan.
888
Semburat sinar matahari mulai
remang-remang menerangi tanah dan ilalang yang masih basah kuyup. Sejak dari
tadi adzan subuh tak berkumandang. Suara orang sama sekali tidak ada hanya
bunyi sapi dan ayam.
Tanak semakin terang dan orang-orangpun
terbangun dari tidurnya, hanya ada sebagian yang masih terlelap pada tirurnya.
Mereka tak meimikirkan pekerjaan yang sudah terlewatkan, seperti pergi keladang
untuk mencari nafkah. Anak-anak tidak sekolah melainkan melanjutkan cerita yang
tadi malam.
:sekolah mts 1
annuqayah,mengungsi
Dipondok
pesantren annuqayah daerah
Latee.juga aktif
di teater saksi