Sakit yang terbunuh oleh ikan
Oleh; sufyan tsauri (oktober,2013,bumi annuqayah)
Tak ada pekerjaan lain
selain di pabrik ikan, bagi mat sahir. Telah 10 tahun bekerja di pabrik ikan,
tapi belum juga bosan-bosan. Setiap pulang pastilah amis ikan. tak ada kata
libur bekerja dan tak ada kata capek. Memang hidup mat sahir penuh liku-liku
tapi hatinya lurus.
Sesak, capek, pusing, semua
berkecamuk dalam kerjanya mat sahir di
pabrik ikan. Dari kepala hingga jemari kaki terasa sakit dan dadanya sesak, tapi
itu di pikul kesabarannya.
Hampir 1 bulan makan tak
teratur,kadang pula berpuasa,jadi kesehatan mat sahir menurun. Sudah 3 kali mat
sahir ke rumah sakit untuk mengecek kesehatan tubuhnya.
Beribu-ribu doa mat sahir
mengucapkannya pada tuhan,tapi semua sia-sia. Deru membuat mat sahir ingin mati
ketimbang sakit yang tak pernah di alami. Tulangnya pun mulai mengakar pada
kulitnya, dari dada sampai punggungnya.
Di depan mat sahir sebuah
kursi berwarna biru, sementara mat sahir termenung karena sakit maahnya. Di
pijat-pijat tangannya yang ceking di sertai seru dari mulutnya. Dengan penuh
harapan kursi itu di raih, lalu duduk di atasnya. Sebotol air dari saku celananya di minum agar
kesehatan tubuhnya sedikit memulih.tangan kanannya mengambil sebungkus kapsul
dari saku bajunya yang robek akibat kena paku. Perlahan mat sahir memejamkan
mata di atas sandarannya, membayang sebuah kesakitan yang terjadi pada dirinya.
“alamak………!!!!!!!!!!!!ikan-ikanya mana????!!!!!! Kok tinggal sedikit”
serentak teriakan dari ruang ikan di letakkan , membuat mat sahir tersentak
dari lamunannya. Gelisah , penasaran, semua di rasakan mat sahir waktu itu.
Matanya melotot sebentar ke ruang ikan
lalu beranjak menuju teriakan yang tadi.
Di dalam, seorang
mengamuk-ngamuk, menghambur-hamburkan ikan, berteriak-teriak tak karua. mat
sahir semakin takut untuk menghampiri, jadi mat sahir hanya di pintu.
“kemana ikan-ikannya kok
tinggal sedikit?!” bentak bos pada mat sahir
“tau bos” kepala mat sahir
tertunduk ketakutan
“terus! Kemana
ikan-ikannya?! Jangan-jangan kamu yang ngambil?” langkahnnya mendekati mat
sahir.
“nggak bos, kalau saya ngambil, pasti saya melapor sama bos. Apa
untungnya saya ngambil ikan di sini? Dan mengambil sebanyak-banyaknya” mat
sahir mengatakan tanpa ragu-ragu dan
bicara yang lantang.
“waduh gawat! Apa tadi ada
orang masuk di sini?” mata bos menatap tajam pada mat sahir.
“kayaknya nggak ada bos”
Di hadapan bos segorombolan
karyawan dengan kepala tertunduk.
“apa ada yang tau, kemana
ikan-ikan di sini?” bos bentak kepada semua karyawan yang ada di hadapannya.
Kemarahan sang bos sudah mulai meninggi di karuniakan ikan-ikannya hilang.
“nggak tau bos” karyawan
menjawab bersamaan.
“oke! Mulai hari ini kita pasang cctv ” matanya melotot pada ikan yang hanya tinggal
1 tumpuk, lalu melangkah ke ikan-ikan itu, di iringi mat sahir di belakangnya
dengan kepala tertunduk. Seketika kaki bos berhenti dan mat sahir hampir
menabraknya.
“eh, yang ini angkut ke
ruang dalam terus kunci” bos membelokkan
arah ke belakang lalu memberikan kunci pada mat sahir.
“oke! Kalian semua pergi”
karyawan-karyawan pun pergi berserakan bagai tawon keluar dari sarangnya. Pun
mat sahir beranjak menuju luar pintu.
“eehhhh, kalau kamu pindahkan ikan-ikan ini” bos masih belum tau
apa yang terjadi pada struktur tubuh mat sahir, jadi bos memaksa mat sahir
untuk memindahkan ikan ke ruang dalam. Begitu pun mat sahir yang tak kenal
lelah dalam mencari uang demi kebutuhan anak dan istrinya di rumah, entah
badannya lemas dan kurang gizi, semua itu adalah hanyalah sebuah cobaan dari
tuhan, bagi mat sahir.
Satu-persatu ikan itu dimasukkan ke dalam
plastik. Tanpa kata jijik mat sahir memakai tangan telanjang dan merakus dengan
banyak. Bau amis mengunjungi penghirupan mat sahir. Hendaklah bajunya yang
putih suci menjadi putih basah dan amis ikan. Amiss ikan laut tidak terelalu
menyengat ketimbang bau bangkai ayam yang selalu ada di belakang rumahnya.
Selesai memasukkan ikan ke dalam plastik, mat
sahir pun membawa ke ruang dalam tempat ikan yang sudah di bersihkan. Lumayan
berat ikan itu, sekitar 5 kg. pusing, capek, sudah terasa tapi mat sahir
kelihatan begitu kuat. Seberat apapun ikan yang di bawannya, mat sahir tak akan
berhenti di tengah jalan, terus berjuang hingga dahaganya habis. Seakan-akan
mat sahir adalah sebuah robot yang pakai baterai dan yang tak pernah di
kalahkan capeknya, meski rangka-rangka tubuhnya rusak.
Sampai ke ruang dalam, mat
sahir meletakkan ikan-ikannya di sebuah kotak yang belum berisi apa-apa.
Sementara bos di belakangnya lihat-lhat tidak menolong mat sahir, tapi mat
sahir tau bahwa bosnya akan memberi gaji yang banyak, paling tidak lima puluh
ribu. Semisal mat sahir dapat gaji sedikit, tetap mat sahir menerima apa yang
di berikan bos.
***
Di luar sana matahari mulai
remang-remang merah, tapi belum masuk waktu maghrib. Namun para karyawan sudah
pulang semua, hanya mat sahir masih belum pulang. Tak seperti kala karyawan
pulang setelah maghrib. Mungkin mat sahir tak akan pulang karena ada kerjaan
yang harus di lakukan hari itu, yakni memasang cctv. Jika pekerjaan itu tidak d
lakukan maka akibatnya di potong gaji. Memang salah mat sahir yang menghilangkan
ikan-ikannya, seharusnya mat sahir menjaga di depan pintu ikan di letakkan
bukan di ruang luar.
Maghrib pun berkumandang,
amis masih melekat di badan mat sahir. Dari azhar mat sahir tak mandi, bahkan
tidak pernah menyentuh air, kecuali air ikan. Rasa lapar telah mengintainya,
tapi mat sahir tidak di perbolehkan makan sama bosnya. Di dalam pabrik ikan
hanya mat sahir sedangkan bosnya masih membeli cctv. Ingin rasanya mat sahir
keluar, melihat kendaraan-kendaraan.
Di dalam terasa muak, mat sahir
pun keluar. Lalu duduk di atas meja terbuat dari bambu, dan matanya mengawasi
pintu masuk pabrik ikan. Seketika segorombolan kucing masuk, lebih dari lima
puluh. Tanpa ada kata, mat sahir pun berlari sekuat-kuatnya, tapi kakinya
terasa berat sehingga kucing itu keluar dengan membawa ikan satu-persatu.
Kucing itu semakin jauh dari mat sahir dan mendekati jalan. Ikan yang di bawa
kucing baru di beli ke nelayan. Mat sahir tak ingin ketinggalan ikan-ikan itu,
tapi perutnya terasa sakit. Sampai di tengah jalan, hampir mat sahir meraih
satu ikan dari satu kucing, tapi usahanya gagal, yakni di tabrak mobil.
Badannya berlumur darah namun tidak mati. Orang-orang tidak ada yang menolongnya,
yang ada hanya ikan-ikan bergalantungan di mulut kucing. Tangannya ingin mengambil
ikan itu, tapi tangannya tidak bisa di kendalikan. Mat sahir pun mati dengan
ikan di atas badannya yang di bawa oleh kucing-kucing.
Ternyata keinginan mat
sahir tercapai. Sakit yang tak pernah di alami usai di tengah jalan di sertai
ikan-ikan di dadanya.
Sufyan
tsauri lahir di sumenep, madura
Sekolah
di mts 1 annuqayah
Dan
aktif di teater saksi







0 komentar:
Posting Komentar