Gugur mawar
Oleh: sufyan ts
(dalam naskah
ini butuh 11 aktor)
aktor (A,B,C,D)
terkurung bambu, di hadapannya
terletak payung
aktor (E)
membawa lampu teplok
aktor(F)
membawa bunga
aktor (G)
sebenarnya di aktor (G) ada dua actor
di susun ke atas diam, dalam kotak putih panjang, membawa dua .
aktor (H)
membawa gerobak
aktor (I)
sebenarnya di aktor (I) ada dua
aktor disusun ke atas, membawa bola bersinar berekor panjang, melelet ke bawah
(kain)
/A/
Wajah panggung:
aktor (A,B,C,D)
berada di setiap sudut panggung,
terkurung bambu. Menunduk menunggu sesuatu, dan duduk di atas kursi. Di
hadapannya ada payung.
aktor (G)
terkurung kotak putih panjang.
Tengah paggung.
Kayu berdiri di sebelah depan kanan
kotak putih panjang. Bell besi digantung. Besi untuk mukul bell besi digantung.
/B/
Adegan I
aktor (E)
dari kiri
masuk panggung. Gelisah. Berjalan pelan. Lampu teplok yang dibawanya menyala terang. Denyut jantung berbeda dari
yang biasa
aktor (A)
malu.
aktor (B)
takut.
aktor (C)
marah.
aktor (D)
gembira.
aktor (E)
dengan gelisah dia melihat semua aktor
(A,B,C,D) seakan-akan dalam hatinya dia bertanya: ada apa dengan semua ini?
Apa yang terjadi hari ini?. Lalu, dia menatap dengan haru pada lampu teplok
yang dibawanya. Seketika dia terkejut. Api yang ada di dalam lampu teplok tetap
tenang. Seperti biasa api menyala. Dia merasa sudah cukup menatap lampu teploknya.
Lalu, matanya mengawasi di sekelilingnya. Dia merasa tau bahwa lingkungan yang
ia jalani akan terjadi sebuah misteri, entah itu apa.
Adegan II
aktor (F)
masuk
dari kanan. Bahagia. Di kepalanya penuh bunga. Mencium bunga yang dibawanya.
Meresapi aroma.
aktor (E)
berjalan menuju aktor (F). membawa kebahagian
dan bunga yang dipegangnya. dia ingin mengambil bunga yang ada di kepala aktor
(F). berjalan penuh harapan. Wajah sedih tapi berdaya.
aktor (A,B,C,D)
mereka menenangkan diri dengan duduk sambil kepala menunduk.
aktor (F)
dia berbelok dari arah aktor (E). dia tak mau
diambil apa yang ia bawa, karna apa yang dia bawa adalah harta.
aktor (E)
dia seakan dipermainkan oleh aktor (E), tapi
dia tak kan menyerah, dia terus ingin megambil. Hatinya terasa dihimpit oleh
bunga yang ada di kepala aktor (E).
aktor (F)
bersenang-senang bunga yang dipegangnya.
Berlari lalu berhenti.
aktor (E)
terus mengikuti aktor (F) kemana aktor (F)
lari. Wajah cemas, sehimgga Tak berdaya.
Adegan III
Traaassss!!!!!
(kotak
panjang yang terbuat dari kertas sobek)
aktor (G)
dia muncul dari kotak putih panjang. Kertas
putih alas atas sobek. Muncul kepala. Wajah misterius.
aktor (E)
terkejut melihat aktor (G). hatinya
seakan-akan ditarik oleh suara dan wajah itu. dia langsung menuju ke bell besi.
Memukulnyadengan cepat.
Teng!
Teng! Teng!
Lampu
teplok digantung di sebuah paku yang tertancap pada kayu.
Aktor (A,B,C,D)
marah:
aktor
(A)
menggetarkan kurung
aktor (B)
menggetarkan payung
aktor (C)
menggetarkan kursi
aktor (D)
turun-naik kursi. Kesana-kemari.
aktor (G)
mengadu
sengnya dengan keras
Treang!treang!treang!
Wajah menyeram. Muka dan mata mengarah ke
aktor (E). berjalan menembus alas depan kotak
aktor (E)
wajah
takut. Melangkah ke belakang—mundur. Mata menatap ke aktor (G). tak berkedip. dia
ingin berlari namun tak bisa lari, kemana ia lari sementara perasaannya dicekik
oleh badai.
aktor (F)
bunga
yang dipegangnya jatuh. kebahagian yang berdiam dihatinya lusuh.Tangannya
mengulur ke aktor (E). mendekap aktor (E) sambil Melihat aktor (G). merasakan
sebuah masalah yang sangat besar yang telah tampak di hadapannya. Sebuah cobaan
yang tak pernah ia alami. Cobaan begitu besar dan menyeram.
aktor (A,B,C,D)
keluar
dari kurung membawa payung. Payung melengkung di atas kepala mereka. Mereka
menampakkan kemarahannya. Payung disambar-sambar.
aktor (G)
marah.
Satu-persatu yang aktor (A,B,C,D) ditatap. Seng berhenti sekejap, lalu
dimainkan tambah keras. Dia bingung mau mmelangkah kemana.
aktor (F)
menyeret
langkah aktor (E) ke belakang. Menjauh dari aktor (G).
aktor (A,B,C,D)
melangkah
ke arah aktor (G) dengan amuk payungnya.
aktor (G)
menghentikan
suara sengnya. Pusing melihat aktor (A,B,C,D). ketika aktor (A,B,C,D) dekat,
sengnya pun dimainkan dengan keras. Membentang.
aktor (A,B,C,D)
tak
kuat dengan amuk seng, payungnya pun menguncup. Payung mengarah ke atas. Meski
payung tertutup, mereka tetap ingin berdiri. Namun, mereka gemetar. Suara seng
itu seakan mencakar payungnya.
Adegan
IV
aktor (H)
muncul
dari kiri. Mendorong gerobak.
aktor (A,B,C,D)
mereka
satu-persatu seakan ada yang menarik ke arah aktor (H). mereka sekuat-kuatnya
melawan tarikan yang entah siapa. Namun, mereka tak kuat menariknya sehingga
mereka masuk dalam gerobak.
aktor (H)
setelah
aktor (A,B,C,D) masuk gerobak. Dia pun mendorong dengan cepat ke depan lalu ke
kanan dan ke kanan—keluar dari tempat ia masuk tadi.
aktor (G)
berjalan
menuju aktor (E) dan (F) yang salin dekap karna takut, ketika hampir sampai.
Lalu,
Adegan
V
aktor (I)
muncul
dari kiri. Membawa bola bercahaya yang berekor panjang sampai menyentuh tanah.
aktor (G)
membelokkan arah badan dan langkahnya. Menuju
aktor (I). emosi. Sengnya berbunyi keras dan cepat.
aktor (E) dan aktor (F)
berjalan
menuju depan panggung saling dekap. Menyaksikan sebuah peristiwa.
aktor (G)
marah
pada aktor (I). seakan ingin mengambil sinar bola yang dipegang aktor (I)
aktor (I)
jalannya
semakin cepat menuju pada kotak tempat keluar aktor (G).
aktor (G)
mengikuti
langkah aktor (I) di belakangnya. Dia tak ingin ketinggalan.
aktor (I)
sampai
di samping kotak, bola yang dipegangnya dijatuhkan kedalam kotak dari arah
atas—atap kotak.
aktor (G)
sedih. Kembali ketempat ia keluar. Masuk
kotak. Kepanjangannya menurun.
1
aktor (E) dan 1 aktor (F)
perlahan
keluar ke arah kiri. Sedih dan menangis.
aktor (I)
lalu,
berjalan ke lampu teplok yang meyala terang. Menutup sebuah kisah denga meniup
api yang menyala terang. Seketika padam. Gelap. Sunyi,
(sebuah rasa yang tak bisa diungkapkan)
*Sekian Dan terima kasih*






0 komentar:
Posting Komentar